Sekelebat kata, “menulislah
maka kamu akan tahu” terbang dalam fikiran untuk mengawali tulisan artikel
ini. Bagi saya, ketika kita menulis, maka kita akan tahu apa yang sedang kita
rasakan. Hal ini terlihat dari hasil tulisan kita setelah selesai dibuat.
Menulis menurut saya merupakan dunia semua orang. Hampir, 87% dari orang
disekeliling saya adalah penulis. Mereka menulis untuk diri sendiri (curhat,
menulis di Diary, update status puitis, politik sampai resep masakan disertakan
gambar) atau sekedar iseng dan kemudian dibaca oleh orang terdekat
disekelilingnya melalui akun Instagram mereka, bercerita tentang pengalam
mereka yang telah lalu dan kemudian diingat untuk ditulis, dan dibaca ketika
muncul sebagai timeline, bahkan banyak yang telah menerbitkan bukunya. Selamat
yah untuk kalian! Do’akan aku menyusul, hhehehe…
Tulisan yang
diterbitkan memiliki karakternya masing-masing. Beberapa pandai dalam merajut
bait puisi, menyusun Narasi dan Sinopsis adapula yang senang dengan tulisan
seseorang sehingga muncul dalam fikirannya untuk menuliskan lagu lantaran
cerita yang ia baca. Menulis adalah kebebasan, kebebasan untuk
merasakan, berekspresi dan berbagi. Mudah bagi siapapun untuk mendapatkan
tulisan menurut porsinya masing-masing, apalagi di Era Digital yang makin
canggih saat ini. Cari penulis, genre tulisan, dan kemudian liat akun
Twitternya, Wattpadnya, Intagramnya, Facebooknya dan lain sebagainya. Tapi
tetap saja, menulis memerlukan ruh dan jiwa. Ketika kita menulis, tentunya akan
ada yang membaca. Ketika tulisan kita dibaca, setidaknya akan ada yang diingat
oleh pembaca jika dirasa bagus sebagai motivasi hidup atau memiliki pesan yang
mendalam. Bahkan tak jarang kutipan yang diambil menjadi viral dan dimodifikasi
sesuai dengan kehendak pembaca. Bahkan Penulis sekalipun, adalah Motivator.
Lantas, bagaimana
agar tulisan kita menjadi penuh makna? Menulislah! Tulisan yang membuatmu
bahagia. Menulislah! Tulisan yang menjadikanmu, istimewa. Menulislah! Tulisan
yang mengingatkanmu tentang sejarah. Menulislah! Tulisan yang mengantarmu pada
masa depan. Menulislah! Tulisan yang membawa mimpimu terbang tinggi.
Menulislah! Dengan hati Ikhlas tanpa kata ikhlas, jika mampu… tulis, tapi jika
tidak, jangan mencibir tulisan orang lain. Belajarlah! Untuk tetap menegakkan
penamu searah dengan gerak tangan dan hatimu, maka fikiranmu akan selalu
sepakat dengan hati, dan hatimu akan selalu kembali pada pemiliknya. Agar
senantiasa tulisanmu menjadi ladang engkau berdakwah, berbagi dan
menginspirasi.
Tangerang, 14 Februari 2018
Kota 1000 Industri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar