Dia, Naya.
Dalam sebuah perkumpulan, aku dan teman-teman meletakkan semua Handphone ditengah-tengan lingkaran membuat pola duduk bersama, saling bercerita dan tertawa bersama, entah apa yang ditertawakan. Karena semua kisah seolah menjadi seru untuk disyukuri dan menjadi ledekkan sesekali. Pada sebuah menit dalam lamanya waktu yang mengumpulkan kita bersama, seseorang berkacamata itu, Adit namanya. Memecah obrolan dengan sebuah tanya, .
"Guys! Look at me, aku punya pertanyaan buat kalian..." Kemudian ia mengeluarkan kertas dan tempat pensilnya yang selalu lengkap. Seperti tas Doraemon, teman laki-lakiku yang paling apik diantara kita berenam. .
Lalu Adit menggambarkan sebuah garis panjang diatas kertas itu, Ia melanjutkan perkataannya, "gimana caranya garis ini jadi pendek?"
Nabil menjawab, "Dit masa yang begituan ditanyain ke kita?"
Adit merespon dengan senyum khasnya, "coba aja dulu bil,"
Tere mengambil kertas itu dan mengambil penghapus di dalam tempat pensil adit. Lalu menghapus sedikit garis yang Adit buat, "like this Dit, lebih pendek kan?" Ucap Tere.
Ajeng dan Remon mengikuti hal yang serupa, "ohiyah atuh kalau gitu aku juga bisa..." Dgn segera Ajeng & Remon mengambil kertas dari Tere.
Dan akhirnya kertas itu sampai dihadapanku.
Adit selalu sulit ditebak, aku tak ingin melakukan hal yang sama dengan yang lainnya, kucoba untuk mengambil pensil dari kotak pensil Adit, kugambar garis baru yang lebih panjang dari garis yang dibuat Adit dan yang telah dihapus beberapa cm oleh Tere, Ajeng dan Remon.
"Loh Nay, kok..." Nabil menimpal saat aku selesai membuat garis itu.
Adit menyanggah Nabil, "Biarin Bil, Naya punya caranya sendiri"
Kemudian Adit melempar tanya padaku, "kenapa kamu gambar garis lagi Nay?" "Guys! Untuk membuat sebuah garis menjadi kecil, kita gak harus menghapusnya... Ayok kita buat garis baru yang lebih panjang, dan garis sebelumnya sudah pasti akan terlihat kecil bukan?" "Maksud kamu Nay?" Tanya tere.
Adit menambahkan, "untuk menunjukkan diri kita dalam segala hal, kita gak perlu untuk menjatuhkan orang lain, atau menghapus kebaikan yg ia lakukan apalagi mengerdilkan, cukup meningkatkan diri agar terlihat lebih baik"
"Naya..." Semua memeluk Naya,
Disebuah tempat, yang lainnya...
Seorang gadis berlari tergesa-gesa di lorong panjang rumah sakit malam itu menuju ruang ICU, hatinya gusar "seandainya ia tak pergi kemarin," seolah menyalahkan takdir. Langkahnya terhenti didepan sebuah ruang, meratap dibalik kaca lebar yang menyekat isi ruang dengan terasnya, tangannya meraba kaca sejajar dengan pandangannya, matanya berbinar pilu, nampak sekali raut wajah yang turun. "Aku datang... Rez," ucapnya.
Terpasang semua atribut medis dibadannya. Kulihat Defibrillator disamping kasurnya masih naik dan turun, manunjukkan irama jantungnya masih menandakan kehidupan. Tak sanggup lagi aku menatapnya dalam, aku ingat sekali nasihatnya kala itu...
.
.
.
🌸🌸🌸
.
.
"Nay, kamu tahu Defibrillator?" Tanya Rezkha.
"Alat medis yah itu... "
"Iyah... Yang berfungsi untuk mengembalikan irama jantung yang tidak normal karena satu faktor, biasanya disandingkan dengan orang yang sedang koma."
"Iya terus...Kenapa Rez?"
"Hidup itu kayak irama yang ditunjukkan Defibrillator Nay, kalau irama garis didalamnya masih naik turun, tandanya pasien itu masih hidup bukan?"
"Iyah..."
"Dan kalau irama garis didalamnya udah lurusss... Atrinya, jantung pasien terhenti." "Ehem... Jadi Rez, " Naya masih meloading.
"Kalau hidup kamu perjalannya naik turun artinya kamu masih hidup Nay... Beda rasanya kalau hidup kamu lurusss ajah gak ada naik dan turunnya, berarti..."
"Ikh jahat! Baru maksud aku tuh, "
Rezka tertawa melihat Naya yang telah melepaskan kemurungannya...
"Iyah, makannya kamu gak usah sedih kalo lagi dalam keadaan jatuh kayak gini, dari jatuh, orang bangun kan. Emang kamu kalo jatuh mau golepakkan ajah ditanah, Gak mau berdiri?" Tambahnya lagi. .
.
.
🌸🌸🌸 .
.
.
Naya menghapus air matanya, dan masuk keruang ICU.
"Rez, aku senang melihat Defibrillator ini masih naik dan turun..." Naya duduk disamping ranjang kasur Rezkha malam itu dan tidur terduduk menggenggam tangan Rezkha, Suaminya. .
@tendrylight, di 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar