Jumat, 27 Juli 2018

Maukah kau melakukan perjalanan denganku?





Adakah yang pernah terluka dalam perjalanan selain diriku?
Sebut saja “Hidup”. Ya, ini tentang kehidupan.
Hidup adalah perjalanan, dan lagi-lagi aku menyadarinya setelah terjatuh.
tentang mawar, adalah bonus yang akan kau temui di toko yang menjualnya sepanjang jalan, hendak kau berikan pada siapa saat tiba ditempat tujuan?


Pada jalan aspal panjang yang selalu kita lewati, tentunya tak selamanya mulus bukan? Terkadang harus kau lewati jalan yang ternyata rusak termakan hujan dan panas, berlubang. Manusia hidup dengan memulai dan menetapkan tujuannya bukan? Hendak kemana dalam perjalanannya, mempersiapkan bahan bakar yang digunakan agar cukup dan tak kehabisan dijalan. Membawa surat-surat kendaraan beserta Surat Izin Mengemudi sebagai hal yang paten wajib dibawa oleh pengendara. Mengenakan sabuk pengaman dan helm, bahkan perintilan kecilnyapun tak luput sebagai pengaman, masker, sarung tangan dan kaos kaki untuk menghindari terik bahkan debu sepanjang jalan. Kadang temui lelah dalam perjalanan jauh, dan hujan yang membuat perut lapar saat berkendara. Membawa persiapan air minum, bahkan terkadang harus melipir saat hujan deras dan tak membawa jas hujan.

Begitupun hidup, sesempurna apapun persiapan yang telah kita atur sedemikian rupa, tetap saja akan ada hal yang baik menurutNya meski tak pernah kita duga sebelumnya. Macet, lampu merah serupa pengingat, bahwa adakalanya kita bersabar dalam keterburuan. Tersalip dan menyalippun hal yang biasa terjadi bukan di jalan raya? Semisal kita belajar didalam kelas dengan berbagai kemampuan yang kita miliki. Menggunakan kecepatan dengan batasan kemampuan maksimal yang biasa kita lakukan, bahkan tetap waspada menggunakan rem juga gas dalam berkendara. Ketika berlebihan dan keterlambatan itu menjadi tidak baik, ya… tentunya semua memiliki porsinya. 

Kau bisa melihat siapa dibelakangmu melalui spion, dan menatap kedepan saat berkendara guna mengetahui siapa dihadapanmu, mobil yang lebih besarkah? Atau lebih kecil. Apapun itu, kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan. Ini tentang diriku dan kalian, yang sering kusebut kita.


Beda berkendara diatas jalan yang sering kita lewati dengan jalan yang baru kita lewati. Saat kita terbiasa mengetahui ada banyak polisi tidur dan lubang pada setiap jalan yang terlewati, sehingga membuat kita khatam, untuk mewaspadainya saat lewat. Namun, pada jalan yang belum pernah terlewati? Tentunya ada kehati-hatian dan kepercayaan diri untuk mencoba melewatinya bukan? Dengan melewatinya, kelak kita akan mengingat jalur mana yang akan membawa kita pada tujuan yang pernah kita jadikan arah pemberhentian. Meski lupa, jika pernah menuju kesana, akan ada bangunan dan jalan yang kita ingat bukan?. Saat jatuh, apa selalu yang salah diri? Atau yang salah orang lain? Tentunya legowo harus menjadi landasan. Ada kalanya, ketika kita sudah berhati-hati ternyata masih saja celaka. Itu takdir, dan menyalahkan tidaklah akan membuat dirimu mengulang jatuhmu. Bahkan tenang akan membawamu pada rasa syukur atas keadaanmmu yang ternyata masih dapat menghirup udara dunia ini. 

Hiduppun begitu. Tak perlu banyak ku-eja tentang arti setiap kata yang kutuliskan, kutahu kau mengerti maksudnya.
Ini tentang mengingatkan diri sendiri, dalam pelajaran perjalanan.
Selalu saja begitu, saat memasuki kelas baru, tempat kerja baru, lingkungan rumah baru, dan keluarga baru. Maka bersiaplah untuk setiap macam perjalananmu. Dan kini, aku bisa sedikit melihat wajah mereka yang berkendara. Kadang riang menikmatinya, pun ada yang lelah bahkan emosi. Dengar, beristirahatlah tepat pada waktunya. Sehingga kelak kau akan siap menikmati perjalanan dengan dia dariNya.


Jadi, maukah kau melakukan perjalanan denganku?

Tendry light, 27 Juli 2018.                                                   

2 komentar:

MOM, Mother Blues not Baby Blues

Selamat datang kembali Sobi, pada laman TL yang mulai membeku berbunga es. Wkwk Coming as A Wife, officially!!! (Upss... It's normally f...