“Tugas guru bukan menjejalkan pelajaran, guru
harus menghidupkan pengetahuan. Kebenaran guru bukan hal yang absolut karena
murid bukan kerbau yang harus serba menurut. Kelas bukan untuk menyucikan
diktat penuh angka, pengetahuan bukan ayat-ayat penuh dogma. Ilmu jangan hanya
obyek hapalan, ilmu untuk memahami dan menuntaskan persoalan. Sekolah perlu
terus membuka diri pada perubahan, guru jangan segan beradaptasi dengan
kebaruan. Agar belajar menjadi proses yang menyenangkan, agar kreatifitas terus
ditumbuh kembangkan. Siswa niscaya akan haus pengetahuan, ijazah takkan
mengakhiri proses pembelajaran. Inilah pengajaran yang memanusiakan manusia bukan
pendidikan yang mengkerdilkan siswa. Tinggal tunggu waktu lahirnya generasi
pencipta mereka yang akan mengharumkan Indonesia dengan karya.”
adalah
kutipan yang saya ambil dari ucapan
presenter sebuah Televisi swasta yang sontak membuat saya berfikir, sebagai apa
hadirnya saya dalam pendidikan sebenarnya? dan bagaimana saya mengposisikan
diri untuk pendidikan saat ini? sudahkah saya bergerak maju berjalan dan
menjadikan siswa-siswi menjunjung mimpinya kepada sebuah ranah perubahan yang
nyata dan bertujuan untuk agama dan Negara, juga bekalnya kelak di akhirat? karena
hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan, tanpa pendidikan Indonesia
tak mungkin bertahan.
Progresivisme
mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia
itu mepunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi masalah yang
menekan adanya manusia itu sendiri. Aliran Progresivisme mengakui dan berusaha
mengembangkan asas Progresivisme dalam semua realitas, terutama dalam kehidupan
adalah tetap bertahan terhadap semua tantangan hidup manusia, harus praktis
dalam melihat segala sesuatu dari segi kegunannya. Berhubungan dengan itu
progresivisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter[1],
baik yang timbul pada zaman dahulu maupun pada zaman sekarang.
Pendidikan
yang bercorak otoriter ini dapat diperkirakan mempunyai kesulitan untuk
mencapai tujuan, karena kurang menghargai dan memberikan tempat semestinya
kepada kemampuan-kemampuan siswa dalam proses pendidikan. Padahal semuanya itu
ibaratkan motor penggerak , manusia dalam usahanya untuk mengalami kemajuan
atau proses.
Oleh karena
itu kemajuan atau proses ini menjadi inti perhatian progresivisme. Maka,
beberapa ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan, dipandang oleh
progresivisme merupakan bagian-bagian utama dari kebudayaan. Progresivisme
dinamakan juga intrumentalisme[2],
karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat
untuk hidup, kesejahteraan, mengembangkan kepribadian manusia. Dinamakan pula eksperimentalisme[3], karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekkan
semangat eksperimen yang merupakan untuk menguji kebenaran suatu teori.
Sedangkan dinamakan environmentalisme[4]
karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan
kepribadian.
Progresivisme
yang lahir sekitar abad ke-20 merupakan salah satu aliran filsafat yang
bermuara pada aliran filsafat Pragmatisme yang diperkenalkan oleh William James
dan John Dewey, yang menitik beratkan pada segi manfaat bagi hidup praktis. Progresivisme
yang dikenal juga dengan nama pragmatisme berkembang melalui struktur
pendidikan di Amerika.[5] Pragmatisme
sendiri pada pokoknya merupakan gerakan filsafat Amerika yang menjadi terkenal.
Pragmatisme merupakan nama baru bagi cara berfikir yang lama. Pragmatisme
adalah metode penyelidikan eksperimental yang dipakai dalam segala bidang
pengalaman manusia.[6]
Filsafat
progresivisme dipengaruhi oleh ide-ide dasar filsafat pragmatisme dimana
memberikan konsep dasar dengan azas yang utama yaitu manusia dalam hidupnya
untuk tetap menghadapi semua tantangannya, harus pragmatis memandang sesuatu
dari segi manfaatnya.
Disini kita
bisa menganggap bahwa filsafat progresivisme merupakan The Liberal Road of
Culture (kebebasan mutlak menuju kearah kebudayaan) maksudnya nilai-nilai
yang dianut bersifat fleksibel (luwes, mudah) terhadap perubahan, tidak menutup
diri pada sebuah kemajuan namun tetap dalam koridor yang diperbolehkan, toleran
dan terbuka sehingga menuntut untuk selalu maju bertindak secara inovatif
(kreasi baru) untuk berfikir dan mengeluarkan pemikiran-pemikiran dan gagasan
baru dan reformatif (berubah drastis) agar tercipta suatu perubahan yang maju
tidak diam ditempat dan terus dapat dilakukan sebagai proses, aktif (giat) serta
dinamis (bergerak maju). Untuk mencapai perubahan tersebut manusia harus
memiliki pandangan hidup yang bertumpu pada sifat-sifat: fleksibel (mudah
dan cepat menyesuaikan diri) guna mampu bersosialisasi dengan keadaan apapun,
curious (ingin mengetahui dan menyelidiki) selalu berfikiran ingin tahu
setiap dan segala sesutu yang belum diketahui dan terus berusaha untuk
mendapatkan hasilnya, toleran dan open minded (berfikiran terbuka) yang
di maksudkan untuk tidak mengambil keputusan sendiri dan membuka diri terhadap
pemikiran yang lainnya untuk mendapatkan suatu penyelesaian dengan saling
menghargai pendapat yang lainnya.
Filsafat
progresivisme telah memberikan kontribusi yang besar di dunia pendidikan,
dimana telah melekatkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada peserta
didik. Anak didik diberikan kebebasan secara fisik maupun berfikir, guna
mengembangkan bakat, kreatifitas dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya
tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. Berdasarkan
pandangan di atas maka sangat jelas sekali bahwa filsafat progresivisme
bermaksud menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju sebagai
generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru.
Sedangkan,
kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam pendidikan. Karena didalamnya
tergambar jelas rencana dalam
pembelajaran yang akan berjalan. Bagaimana dan apa saja yang harus terjadi
dalam proses belajar mengajar.[7]
Dalam proses pendidikan Islam maupun pendidikan umum di sebuah instalasi
sekolah negeri, segala aspek tentang pendidikan dirumuskan secara jelas dan
gamblang di dalam kurikulum agar dapat mempermudah kegiatan pendidikan.
Kurikulum adalah istilah yang telah diketahui oleh setiap orang. Tapi mungkin
hanya sedikit saja orang yang tahu bahwa kurikulum itu sangat penting posisinya
dalam pendidikan. Kurikulum ialah program untuk mencapai tujuan. Sebagus apapun
rumusan tujuan jika tidak dilengkapi dengan program yang tepat maka tujuan itu
tidak akan tercapai. Dalam sebuah buku terkutip, Kurikulum itu laksana jalan
yang dilalui dalam menuju tujuan. [8] Yang
berarti juga merupakan sebuah proses dalam bidang pendidikan.
Di dalam
kurikulum tidak hanya dijelaskan tentang ilmu pengetahuan apa sajakah yang
harus diajarkan guru kepada muridnya, tetapi juga segala kegiatan tentang
kependidikan yang dianggap perlu dan penting untuk diterapkan kepada para
peserta didik. Dalam proses belajar mengajar, Kurikulum akan dikatakan baik
apabila bersifat fleksibel (mudah menyesuaikan) sehingga dapat di revisi, dan
eksperimental (hasil dari percobaan) atau memiliki pengalaman. Kurikulum seyogyanya
berbeda-beda sesuai dengan kondisi yang ada. Dengan demikian, dalam kurikulum
tergambar jelas secara berencana
bagaimana dan apa saja yang harus terjadi dalam proses belajar mengajar yang
dilakukan oleh pendidikan dan anak didik. Oleh karenanya proses perubahan dalam
aliran Progresivisme memicu terhadap kurikulum yang diberikan kepada peserta
didik. khususnya dalam Pendidikan agama Islam pada pembahasan ini.[9]
Gerakan progresif
terkenal luas karena reaksinya terhadap sekolah formal dan sekolah tradisional
yang membosankan, yang menekankan didiplin keras, belajar pasif, dan banyak
hal-hal kecil yang tidak bermanfaat dalam pendidikan. Lebih jauh gerakan ini
dikenal karena himbauannya kepada guru-guru: “kami mengarapkan perubahan,
serta kemajuan yang lebih cepat setelah perang dunia pertama”.
Banyak guru yang mendukungknya, sebab gerakan pendidikan progresivisme
merupakan semacam kendaraan mutakhir untuk digelarkan.[10]
Dengan melandanya
“adjustment” (peraturan) pada tahun tiga puluhan, progresivisme
melancarkan gerakannya dengan ide-ide perubahan sosial. Perubahan yang lebih
diutamakan adalah perkembangan individual, yang mencakup berupa cita-cita,
seperti cooperation (kerjasama), sharing (pembagian) dan adjustment(pengaturan),
yaitu kerjasama dalam bentuk aspek kehidupan, turut ambil bagian (memberikan
andil) dalam semua kegiatan, dan memiliki daya fleksibilitas (mudah
menyesuaikan) untuk menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi.[11]
Para
pendidik yang memiliki orientasi (pandangan pemikiran) progresif memberikan siswa-siswanya beberapa
kebebasan dalam memberi nilai
pengalaman-pengalaman di lingkungan sekolah mereka. Dengan demikian, pendidikan
progresivisme akan dapat mempermudah guru terhadap hasil berfikir peserta didik
dalam menyelesaikan suatu permasalahan dan melakukan apa saja yang mereka
inginkan tetapi tetap dalam pantauan para dewan guru. Sedangkan para guru-guru
Progresif akan dengan mudah merekap hasil belajar siswa dengan ke aktifan
mereka didalam kelas. Tentunya dalam
menjalankan kegiatan sekolah yang
baik dan bermanfaat bagi seluruh warga sekolah.
[1]
Otoriter dalam
KBBI berarti berlaku semenang-menang, tindakan berkuasa.
[2] Intrumental
dalam KBBI berarti peran sutu frasa yang menyatakan atau berfungsi sebagai
“alat”.
[3] eksperimen
dalam KBBI berarti percobaan yang bersistem dan berencana.
[4] environmental
berarti sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan juga suasana.
[5]
Oemar Hamalik, Dasar-dasar
Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013). Cet ke-5, h.
64
[6] M. Rasjidi, Persoalan-persoalan
filsafat (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1984), h. 340
[8]
Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam,
(Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2014), cet- ke-6, h.98
[9] Uyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan
(Bandung : CV Alfabeta, 2014), cet- ke-9 h. 142
[11] ibid, h. 142

Tidak ada komentar:
Posting Komentar