Minggu, 23 Juni 2019

Bukan Sekedar Pejuang Peradaban

Mesin waktu membawa perjuangan pada peradaban.
Membuat peluh bersanding keluh.
Jeruji besi masih mengikat,
Juga berat hendak diangkat.
Semakin sakit namun kering tak berdarah
Menyiksa batin dan termakan waktu.
Hingga akhirnya membumi untuk yang kedua kalinya.
Layang-layang terbang bebas di udara, terputus senar terbawa angin.
Bumi masih tergenggam,
Seperti membisikkan sesak perjuangan.
Sedang semua raga seperti ruh yang terhempas.
Dalam gelap sebuah cahaya dinyalakan...
Bersumber potongan kayu yang bersumbu.
Menjadikan warna yang beda berpadu.
Panasnya berkobar hingga zaman tertutup,
membuat persatuan tepat pada waktunya mengatup.
Teriak suara kelahiran menjadi senjata, bahwa yang mati, kini hidup kembali...
Patromak yang sempat padam, menyala lagi.
Perjuangan bukan lagi bumbu peradaban,
Lebih dari garis merah yang melintangkannya...
Juang tak lagi tersingsingkan.

@tendrylight

Special words, for 74 Indonesia years old.

2 komentar:

  1. Jadi... kesimpulan nya apa..dong..biar makin faham isinya.. soalnya kalau kita fahami kata kata model cerpen atau pantun dengan bahasa yang intelek..kita masih awam..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fyi ini bukan cerpen atau pantun, karena memang berbeda ya... :)
      Kalimat-kalimat diatas membentuk ungkapan kelahiran, ketika dahulu para perjuang menumpahkan darah sehingga, pada reinkarnasi makhluk Tuan selanjutnya... Berjuang tak melulu menumpahkan darah :)

      Hapus

MOM, Mother Blues not Baby Blues

Selamat datang kembali Sobi, pada laman TL yang mulai membeku berbunga es. Wkwk Coming as A Wife, officially!!! (Upss... It's normally f...