Adanya di Kota Hati, ibu kota Hati tepatnya. Saling hendak berpapasan namun tak kunjung mata bertemu. Sepertinya terhalang rasa, tapi bukan rindu.
Seseorang, yang kata-katapun tak mampu wakili siapa dirinya,
Mencucuk penasaran makin pilu.
Bola mata yang bulat dibalik, kacamata.
Belok.
Begitukah siluet dalam fikiran membawa imajinasi?
Seperti tajamnya mata si blacky.
Laksana singgasana, tempat ternyaman dunia bukan lagi disudut sepi,
Kini,
Hamparan rumput-rumput yang miliki tepi.
Apa alasan seseorang menyendiri, dan mengetuk hati untuk mencari?
Boleh jadi, mereka sepertiku yang mulai membenahi diri.
Bukan lagi untuk mencari siluet di kota Hati, tapi untuk bersama temui Dia sampai ke Arsy.
@Tendrylight
Penikmat perjalanan, peramu kekata liar, pemimpi yang retjeh dan seorang hamba. Yang 'Memulai dengan Cinta', Ia percaya segala sesuatu yang diawali dengan cinta , akan bertemu dengan cinta.
Rabu, 14 Februari 2018
BERGERAK!
Part kesekian tentang B E R G E R A K .
.
Sudah berapa purnama kaki ini membawa diri pada satu tempat yang acap kali pertemukanku dengan mereka, tak butuh waktu lama dan jarak bermili untuk jumpa. Enam hari dalam seminggu, tujuh dari 24 jam, dan waktu makan siang yang memanjakan tangan dari alat tulis pun keyboard juga mata dan mata berkacamata dari layar datar berjiwa listrik 😆😆😆
Harian, mingguan, bulanan... begitu berlalunya masa menghabiskan luang kami di beberapa masa saat itu, sesekali PHBN dan undangan menyatukan tawa kami, ini tentang bagaimana setiap orang beropini tentang orang disekelilingnya.
.
.meski waktu tak kan bertambah menjadi dua puluh delapan bahkan tiga puluh jam per hari, menjadi beda, setidaknya... dirilah yang menjadikannya berbeda.
.
Setelah hari itu, aku melihat jalanan yang jarang aku lewati tiap pagi selama empat tahun ini, iya... yang hanya kudengar dari cerita mereka yang riuh obrolkan macet. Entah betapa aku merasa bebas dibawah langit mendung ditengah-tengah kerumunan mobil dan motor yang mengantri tak beraturan hendak gunakan jalan... Tak bisa pun kubaca bagaimana perasaan hati dibalik pengendara bermasker, berkacamata, kenakan helm dan yang khusyuk dengan ponselnya didalam angkutan. Ada, mungkin rasa terburu dipagi hari yang menuntut mereka untuk saling mendahului. Yang marah, karena dituntut keterburuan dan tanda tanya, "macet kenapa ini?" Sampai yang abusss dan menekan klakson berkali-kali. Aku, menjadi yang paling bersyukur diantara mereka karena masih mampu tersenyum untuk diri sendiri dan setidaknya tersenyum bagi mereka pengguna jalan yang menyadari. Banyak kutemui kasus motor tabrak motor hingga akhirnya ribut dan adu mulut 😪😣, juga motor dan pengendaranya jatuh karena jalanan yang licin.
Bergerak itu tentang, kamu "berpindah". Bukan berpindah hati tapi. 😆
Selamat menemukan cerita yang lainnya kembali, terimakasih sudah mau menyempatkan berbagi waktu 😉
Warm regards
@tendrylight
@30haribercerita
#30haribercerita
#30HBCBergerak
.
Sudah berapa purnama kaki ini membawa diri pada satu tempat yang acap kali pertemukanku dengan mereka, tak butuh waktu lama dan jarak bermili untuk jumpa. Enam hari dalam seminggu, tujuh dari 24 jam, dan waktu makan siang yang memanjakan tangan dari alat tulis pun keyboard juga mata dan mata berkacamata dari layar datar berjiwa listrik 😆😆😆
Harian, mingguan, bulanan... begitu berlalunya masa menghabiskan luang kami di beberapa masa saat itu, sesekali PHBN dan undangan menyatukan tawa kami, ini tentang bagaimana setiap orang beropini tentang orang disekelilingnya.
.
.meski waktu tak kan bertambah menjadi dua puluh delapan bahkan tiga puluh jam per hari, menjadi beda, setidaknya... dirilah yang menjadikannya berbeda.
.
Setelah hari itu, aku melihat jalanan yang jarang aku lewati tiap pagi selama empat tahun ini, iya... yang hanya kudengar dari cerita mereka yang riuh obrolkan macet. Entah betapa aku merasa bebas dibawah langit mendung ditengah-tengah kerumunan mobil dan motor yang mengantri tak beraturan hendak gunakan jalan... Tak bisa pun kubaca bagaimana perasaan hati dibalik pengendara bermasker, berkacamata, kenakan helm dan yang khusyuk dengan ponselnya didalam angkutan. Ada, mungkin rasa terburu dipagi hari yang menuntut mereka untuk saling mendahului. Yang marah, karena dituntut keterburuan dan tanda tanya, "macet kenapa ini?" Sampai yang abusss dan menekan klakson berkali-kali. Aku, menjadi yang paling bersyukur diantara mereka karena masih mampu tersenyum untuk diri sendiri dan setidaknya tersenyum bagi mereka pengguna jalan yang menyadari. Banyak kutemui kasus motor tabrak motor hingga akhirnya ribut dan adu mulut 😪😣, juga motor dan pengendaranya jatuh karena jalanan yang licin.
Bergerak itu tentang, kamu "berpindah". Bukan berpindah hati tapi. 😆
Selamat menemukan cerita yang lainnya kembali, terimakasih sudah mau menyempatkan berbagi waktu 😉
Warm regards
@tendrylight
@30haribercerita
#30haribercerita
#30HBCBergerak
Kullil Haq, walau kaana murron
Biarkan Matahari dan pelangi hadir, pada masanya.
Jangan berikan warna pelangi, pada hangatnya Matahari pagi. [TendryLight,2018]
Beberapa waktu lalu, Gerhana bulan singgah semenjak 150th. Terbayangkah betapa bumi sebetulnya gulita? Tanpa lampu alam raya yang menjulang disetiap gedung pencakar langit di Seluruh Dunia. Pada malam itu, ribuan mata keluar hendak menyaksikan. Berbondong menuju Masjid, ramai. Secuil kebesaran yang lagi-lagi ditampakkanNya .
Seperti itu, perkataan baik atau buruk jika terucap. Sedikit saja mengalir sadar maupun tidak, keajaibannya bisa menyerupai cahaya yang begitu indah menerangi hati, pun gulita... yang mampu menggelapkan hati untuk berfikir. Masyhur kiranya dalam sesaat terbawa angin kepenjuru.
Berkata benar, tidak harus menyakiti. Keluar untuk melihat terang, tidak harus disaat Malam.
Bukankah, senyum masih memegang andil perdamaian? Tolong, jangan coreng "senyum" karena hati-hati yang mengumpat.
Karena Dia, telah jadikan kasih dan sayang sebagai jembatan ikatan.
Tgr, 2018
tendrylight
Distinguished
Aku baru saja akan memulainya,
Tapi sepertinya banyak yang tidak menyukai "mengenang". Sah saja, bila mereka lebih suka mengatakan "ajarkan ku seribu bahasa", agar tak terbata mengeja banyak rasa salah satunya.
P E N Y E S A L A N
pernah setelah hari dimana kabarmu tidak lagi mengawali hariku, semua sudut terasa sunyi meski ramai. Aku mungkin lebih senang berkata, mungkin baiknya kita tidak pernah bertemu. Tapi, tanpa hadirnya kamu... Aku tidak akan pernah tahu, bahwa tidak ada rasa yang benar ada sebelum pertemuan.
Hoax! Ucapanmu begitu membuatku melakukan banyak kesalahan. Dan aku benci mengatakan, aku MENYESAL.
Menjadi penanya, begitu ingin mencairkan suasana... Bahkan lebih banyak bercerita tanpa kau minta. How stupid I am >,< Dunia berputar, memberikan banyak ruang baru disetiap mili perjalanan...
Saat tentangmu tak lagi kudengar, bahkan dengan sumringah kuutarakan bahagia, itupun bagian terhoax selanjutnya dalam hidupku. Kau tahu? Aku, banyak bermimpi... Setelah menjauh darimu, dan kau telah manjadi jauh dariku.
Tentang, tak akan ada lagi cerita yang sepertimu.
Tak ada lagi lubang yang sama, yang akan membuatku terpelosok kedalamnya.
Bahkan jika ada yang sama, kupastikan akan kucari jalan lain disisi lubang untuk menghindarinya. Bukankah begitu kamuflase kehidupan?
Selanjutnya, biarkan kuberitahu tentang sebuah "K E S E M P A T A N K E - 2"
Memberikan kesempatan untuk duduk dan berbincang, bukan memaksa hatiku merelakan ataupun melepasnya. Tapi, berkata jujur kepada hati. Jika benar, pilihanmu adalah bukan karena keterpaksaan.
Aku, akan lebih berbesar hati menerimamu untuk menjadi kerabat yang pernah kukenal, tentunya dengan sebuah kejujuran. Dengan kamu, mengatakan yang sebenarnya. Dengan kamu, berkata baik dikala kita duduk berbincang. Setidaknya tanpa amarah, luka maupun kecewa.
Tentu semua lebih mengajarkanku tentang cara mendengarkan dan memperhatikan sehingga semua dapat kufahami.
Jangan biarkan, tentang kita hilang dalam tanya.
Jangan jadikan tentang kita adalah judul tanpa alur cerita.
Jangan pernah, tinggalkan kesan tak baik tentangnya diantara kita.
Aku tahu, tidak akan ada puzzle yang mampu menempati tempat yang bukan letaknya. Bahkan menggatinkannya sekalipun, karena semua ingin hasilkan gambar yang sempurna bukan?
Coba perhatikan bersama tentang setiap abjad yang ku eja perkata,
Tentang R E S O L U S I dan seribu bahasa
Azimat baik, cerita dunia elok fahami gelisah hinggapi imaji jika kelak lebih menarik nan opini pribadi Qur'ani, risaukan semua tentang usia volume waktu xerofit yaitu zaman
Pada ribuan cerita yang terlalui
Sepucuk daun baru tumbuh
Hijau dibawah cahaya surya
Tetesan embun sesekali merangkul dinginnya hujan yang bermalam
Terlihat kupu-kupu bertengger menyesap madu pada kelopak nila
Jingga menyambut, mengganti posisi
Aromanya tawarkan hangat esok hari
Biar bintang, tak hanya merangkul malam.
@tendrylight
Februari, 2018-10
@distinguishpuzzle
#giveaway#penulis#bukubaru#pembaca#cerita#bukuhariini#instagood#inspirasi#distinguishpuzzle218
adaptasi, ig @tendrylight
Merayakan hari Merah Putih
Pesta di Kedaung pasar kemis Tangerang.
Merayakan identik dengan pesta dan balon. Sukacita dan penuh kegembiraan.
Menulislah!
Sekelebat kata, “menulislah
maka kamu akan tahu” terbang dalam fikiran untuk mengawali tulisan artikel
ini. Bagi saya, ketika kita menulis, maka kita akan tahu apa yang sedang kita
rasakan. Hal ini terlihat dari hasil tulisan kita setelah selesai dibuat.
Menulis menurut saya merupakan dunia semua orang. Hampir, 87% dari orang
disekeliling saya adalah penulis. Mereka menulis untuk diri sendiri (curhat,
menulis di Diary, update status puitis, politik sampai resep masakan disertakan
gambar) atau sekedar iseng dan kemudian dibaca oleh orang terdekat
disekelilingnya melalui akun Instagram mereka, bercerita tentang pengalam
mereka yang telah lalu dan kemudian diingat untuk ditulis, dan dibaca ketika
muncul sebagai timeline, bahkan banyak yang telah menerbitkan bukunya. Selamat
yah untuk kalian! Do’akan aku menyusul, hhehehe…
Tulisan yang
diterbitkan memiliki karakternya masing-masing. Beberapa pandai dalam merajut
bait puisi, menyusun Narasi dan Sinopsis adapula yang senang dengan tulisan
seseorang sehingga muncul dalam fikirannya untuk menuliskan lagu lantaran
cerita yang ia baca. Menulis adalah kebebasan, kebebasan untuk
merasakan, berekspresi dan berbagi. Mudah bagi siapapun untuk mendapatkan
tulisan menurut porsinya masing-masing, apalagi di Era Digital yang makin
canggih saat ini. Cari penulis, genre tulisan, dan kemudian liat akun
Twitternya, Wattpadnya, Intagramnya, Facebooknya dan lain sebagainya. Tapi
tetap saja, menulis memerlukan ruh dan jiwa. Ketika kita menulis, tentunya akan
ada yang membaca. Ketika tulisan kita dibaca, setidaknya akan ada yang diingat
oleh pembaca jika dirasa bagus sebagai motivasi hidup atau memiliki pesan yang
mendalam. Bahkan tak jarang kutipan yang diambil menjadi viral dan dimodifikasi
sesuai dengan kehendak pembaca. Bahkan Penulis sekalipun, adalah Motivator.
Lantas, bagaimana
agar tulisan kita menjadi penuh makna? Menulislah! Tulisan yang membuatmu
bahagia. Menulislah! Tulisan yang menjadikanmu, istimewa. Menulislah! Tulisan
yang mengingatkanmu tentang sejarah. Menulislah! Tulisan yang mengantarmu pada
masa depan. Menulislah! Tulisan yang membawa mimpimu terbang tinggi.
Menulislah! Dengan hati Ikhlas tanpa kata ikhlas, jika mampu… tulis, tapi jika
tidak, jangan mencibir tulisan orang lain. Belajarlah! Untuk tetap menegakkan
penamu searah dengan gerak tangan dan hatimu, maka fikiranmu akan selalu
sepakat dengan hati, dan hatimu akan selalu kembali pada pemiliknya. Agar
senantiasa tulisanmu menjadi ladang engkau berdakwah, berbagi dan
menginspirasi.
Tangerang, 14 Februari 2018
Kota 1000 Industri
Langganan:
Komentar (Atom)
MOM, Mother Blues not Baby Blues
Selamat datang kembali Sobi, pada laman TL yang mulai membeku berbunga es. Wkwk Coming as A Wife, officially!!! (Upss... It's normally f...
-
Sekelebat kata, “ menulislah maka kamu akan tahu ” terbang dalam fikiran untuk mengawali tulisan artikel ini. Bagi saya, ketika kita menu...
-
Mari menjadi pemerhati... mari melihat lebih dekat, bahwa Hidup adalah tentang bertanya dan menjawab. Entah untuk diri sendiri, ma...





